Langsung ke konten utama

PANGGILAN BAIK MENUAI KASIH SAYANG

 


By. : Moh. Homaidi*

Seorang kakak tampak marah saat mendengar adiknya memanggil nama panggilannya, Zainab, dimana Zainab? Diiringi dengan suara kencang. Ibunya yang ada di belakang "dapur" sengaja diam, ingin tahu reaksi kakaknya yang barusaja dipanggil namanya.

Benar saja si kakak yang semula diam di kamar, keluar sambil mendobrak pintu seraya bersuara lantang “kenapa kamu jambal”? sanggahnya. Adik yang santai seolah tidak ada apa-apa kaget, seraya berusaha berdalih, “tadi aku panggil kakak tidak nyahut, giliran aku panggil namanya nyahut” he..he. kilahnya.

Agar tidak berlarut-larut, Ibunya datang menghampiri, berusaha menengahi duduk permasalahan yang baru saja terjadi, seraya menyuruh adik agar minta maaf ke kakak, dan tidak mengulangi lagi, pintanya. “iya”, jawab adik.

Sekelumit adegan di atas adalah kejadian yang kurang baik, apapun alasannya yang jelas cukup dengan memanggil kakak saja urusan sudah usai. Tapi nyatanya dalam prakteknya tidak semudah itu, perlu ada keseriusan untuk memperbaiki diri.

Tanda Kefasikan

Seorang yang mudah memanggil orang lain dengan panggilan nama gelar atau mudah menyebut nama gelar "si culun, atau si hitam". Tanpa disadari ia telah menyakiti saudaranya, jangankan orang yang dipanggil, siapapun yang mendengarnya sudah risih dan tidak rela.

Padahal dalam Islam menyakiti orang lain apalagi dia seorang muslim hukumnya adalah haram, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ 

Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mudah memanggil orang lain dengan panggilan yang kurang baik adalah perkara kefasikan dan menunjukkan si pelaku adalah orang yang sombong, seraya berkata bahwa dirinyalah yang paling mulia dan bijak, na’udzubillah.

Adab

Memanggil nama orang lain dalam Islam dilarang dengan panggilan yang mengolok dan cendrung menyakitkan, hal ini sesuai larangan Allah SWT dalam penggalan firman-Nya :        

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

Artinya : "Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk)". (QS. Al-Hujuraat: 11)

Ayat tersebut menganjurkan agar kita memanggil dengan sebutan yang baik dan indah, serta tidak menyinggung. Dalam hal ini syarat adab dan kebijakan seseorang dalam mempraktekkan.

Umar bin Abi Salamah ra berkta : Ketika aku masih kecil di bawah asuhan Nabi SAW, biasanya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru makanan. Melihat hal itu Nabi saw bersabda, “ Hai ghulam, bacalah bismillah, dan makanlah dengan tangan kanan serta makanlah dari yang dekat-dekat kepadamu”. (HR. Bukhari-Muslim).

Nabi SAW memanggil sang anak dengan “Hai Ghulam”, panggilan sayang yang berpengaruh mendalam terhadap jiwa. Rasulullah mengedepankan familiarrity (kekeluargaan) dan proximity (kedekatan) yang menyentuh jiwa dan merubahnya.

Hal ini adalah anjuran bagaimana  kita memperlakukan seorang anak,  yang lebih muda tapi tetap dengan panggilan yang baik dan lembut, apalagi kepada orang yang lebih tua tentu lebih hormat dengan meningkatkan kesopanan dan kearifan.[]

*Aktivis Sosial Dan Pendidik_Kota Batu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keseruan Kelas VI Angkatan 3 SD Integral Al-Fattah Go To Surabaya

  Batu : Merupakan momen tahunan yang ditunggu siswa/i kelas VI SD Integral Al-Fattah (SDIA) Kota Batu, yaitu study tour.  Rasa yang ditunggu siswa/i SDIA terbayar sudah. Karena kegiatan tersebut terlaksana pada Selasa (7/1/25).  Adapun peserta dari siswa/i SDIA kelas VI berjumlah 63 dan Ustadz/ah pendamping 15 orang cukup memenuhi dua bus, dari Batu menuju kota pahlawan Surabaya. Kenapa Surabaya menjadi jujukan study tour? Pertanyaan ini muncul, karena dua angkatan sebelumnya go to Jogja.  Surabaya merupakan Ibu Kota Provensi Jawa Timur, didalamnya terdapat wahana Kebun Binatang Surabaya (KBS), wisata  bahari, dan history (monumen kapal selam dan tugu pahlawan) tegas Bunda Issanu. Disamping itu lanjut ketua paguyuban kelas VI tersebut, bukan hanya itu anak-anak juga diajak bersenang-senang ke Trans Snow World (TSW), dan terkahir berlabuh ke Masjid Al -Akbar. Masjid terbesar se Jawa Timur tersebut juga sarat estetika timur tengah, tutupnya. Moment tersebut disem...

Mulia Dengan Berbakti Kepada Orang Tua

  Oleh : Moh. Homaidi * Seorang Ustadz yang santun dalam penyampaian nasehat dan senantiasa menyentuh hati. Suatu ketika beliau bercerita kepada jama'ah bahwa dua pekan sebelum ramadhan, ada seorang temannya datang dan bercerita. Bahwa ada salah satu anak buahnya di tingkat pemerintah, ia sebagai pegawai negeri sipil (PNS) tiba-tiba mengajukan resign. Melihat dan mendengar surat pemunduran diri bawahannya si pemimpin kaget dan panik. Lantas si pemimpin bertanya kenapa mau mundur, apakah ada masalah pekerjaan atau gaji kurang? Pegawai yang bersangkutan diam tanpa mengeluarkan suara. Kalau begitu jangan dulu, pekerjaan kamu bagus dan tuntas. Apa yang menjadi dasar kamu mau memundurkan diri? Sanggahnya. Pengajuan surat resign ini bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah berkali-kali, tapi ketika ditanya alasannya kenapa? Jawabanya sama, diam tanpa suara. Di bulan ke enam pemuda yang sederahana dan punya anak yang masih kecil-kecil tersebut kembali mengajukan resign. Sebagai pemimpin, d...

Isro' Mi'roj ; Sarana Kemuliaan

  Oleh. : Moh. Homaidi * Setiap tanggal 27 Rajab umat Islam diingatkan dengan peristiwa penting Isro' Mi'roj. Pristiwa yang mengangkat derajat seseorang untuk lebih baik dan bijak. Sebagaimana yang sudah dikenal tentang Isro' Miroj, di mana saat itu Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan waktu malam dari Kota Makkah menuju Masjid Aqso Palestina, setelah itu naik ke langit 1 sampai ke 7 menggunakan kendaraan Burok, dan ke Sidrotul Muntaha. Hal yang menarik pada perkara Isro' Mi'roj ini adalah pentingnya sholat, dan menjadi momen diwajibkan melaksanakannya. Kemuliaan Allah SWT merupakan dzat yang agung dan maha tinggi. Salah satu bentuk keagungan-Nya, ketika ia memanggil Nabi Muhammad SAW ke Sidrotul Muntaha karena perkara yang mulia, yaitu sholat. Ketika perintah sholat turun  berjumlah 50 waktu, Nabi yang mulia menerima dengan seksama. Hanya saja ketika turun ke langit ke 6 beliau bertemu dengan  Nabi Musa AS., beliau mendapat saran agar bernegosiasi dengan Allah SW...