By. : Moh. Homaidi*
Setiap hari seseorang bekerja dan berjuang, baik berjuang untuk keluarga atau lembaga. Seiring waktu yang berjalan terkadang kita dipertemukan dengan persoalan yang delima dan memerlukan keputusan, sehingga tidak jarang bersinggungan dengan orang lain.
Membuat orang lain keberatan sementara kita harus mengikuti system yang ada, disinilah terjadi tarik ulur antara fakta dan data, antara dilanjutkan atau tidak?.
Termasuk diantaranya lalai terhadap panggilan Allah, taruhlah dalam melaksanakan sholat tepat waktu, terbesit dalam hati nanti dulu. Secara tidak langsung menyampingkan panggilan Allah dan mendahului urusan yang lain.
Allah sangat sayang kepada hamba-Nya, tidak ingin hamba tersebut jauh dari syari'at-Nya sehingga perlu didatangkan musibah baik berupa gempa, kecelakaan, atupun sakit, demam dan lain sebagainya.
Terkadang ia menjadi bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Ia laksana obat, walaupun pahit ia akan meminumnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dalam hadits Shahih disebutkan,
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Artinya : "Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum pasti Dia menguji mereka. Maka siapa yang ridha (terhadapnya) maka baginya keridhaan Allah, dan siapa yang marah (terhadapnya) maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Oleh karenanya, orang yang paling banyak menerima musibah adalah para nabi dan rasul. Dengan itu, Allah mengangkat derajat mereka, meneguhkan kebenaran mereka, dan menjadikan mereka sebagai teladan bagi semua makhluk.
Penghapus Dosa
Di antara musibah yang Allah timpakan kepada hamba adalah sakit. Seorang mukmin melihatnya sebagai sebab yang menghapuskan dosa-dosanya.
Penyakit-penyakit yang menimpanya sebagai kafarat (penebus) atas kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Artinya : "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Al-Syuura: 30)
Maka terimalah musibah apapun bentuknya, karena yang demikian sebagai sarana penebus dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Maka menjadi sebuah tolok ukur seorang hamba berhak mendapatkan cinta atau murka Allah, tatkala ia sabar atau mengeluh saat menerima.[]
*Aktivis Sosial Dan Pendidik_Kota Batu
Komentar
Posting Komentar