Oleh : Moh. Homaidi*
Masyarakat adalah wadah untuk berkarya, berkolaborasi dan berekspresi. Tentu mereka harus melalui tempaan yang kuat dan kokoh. Kuat menghadapi ujian dan cobaan. Kokoh saat tertimpa fitnah dan pemimpinnya tegas dalam mengambil keputusan.
Ustadz Abdurrahman dalam penyampaian taujih umumnya di depan pengurus Hidayatullah Jawa Timur pada acara Rakerwil yang bertempat di Pondok Pesantren Al-Izzah Kota Batu, Ahad (1/2/26).
Dalam ceramahnya beliau menyampaikan bahwa ada tiga unsur pembentuk masyarakat dan hal ini harus saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Apasaja yang dimaksud? Ia adalah pikiran (الأفكار), manusia (الأ شخاص), dan materi (الأشياء).
Ustadz yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangat Pusat Hidayatullah tersebut melanjutkan bahwa pikiran yang di asah oleh Al-Qur'an dan hadits, serta amal sholeh akan senantiasa menjadi pribadi yang taat, yang senantiasa patuh kepada Allah dan rasul-Nya.
Manusia yang demikian akan selalu memilki pikiran yang positif, kognitif dan adaptif. Tidak mudah tersinggung dan tahan banting saat menghadapi rintangan. Yakinlah materi yang dibutuhkan pasti mudah didapatkan, sehingga terbangunlah masyarakat yang baldatun warabbun ghafur. Tutupnya.
Jiwa Pemimpin
Seorang pemimpin harus beradab, memiliki kemampuan, keterampilan, keahlian, intelektual (kecerdasan emosional, sepiritual, dan moral). Hal ini harus melalui tempaan ta'lim dan hikmah.
Yakinlah pemimpin yang demikian akan membawa masyarakatnya lebih bermartabat dan hadir sebagai problem solver/penyelesaian masalah. Jangan menjadi problem meker, kehadirannya membawa masalah dan kendala dalam kehidupan bermasyarakat.
Nabi Muhammad saw pernah bersabda kepada Ka'ab bin 'Ujrah, “Hai Ka'ab bin Ujrah! Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang bodoh.” Ka'ab bertanya: “Apa yang dimaksud kepemimpinan orang-orang bodoh itu?" Beliau SAW bersabda, “Para pemimpin yang akan datang sesudahku, mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak meniti jalanku".
Jadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai rahmat, dan jadikan pula ia sebagai jati diri pemimpin/kader, mulai dari cara bicara, sikap, sampai dalam pengambilan kebijakannya.
Jiwa pemimpin yang demikian akan dirindu kehadiran dan arahannya, ditunggu kebijakan dan kinerjanya, serta hasilnya.[]
*Pemerhati Sosial dan Pendidik_Kota Batu

Komentar
Posting Komentar