Langsung ke konten utama

Postingan

Pahamkan Buah Hati

  By. : Moh. Homaidi* Suatu hari si Ahmad mengadu kepada Gurunya, kalau tadi malam di hajar sama bapaknya, sebab membaca catatan pelanggaran yang ada di buku penghubung. Tanpa berkata-kata bapaknya melayangkan tangan kekarnya ke pipi si Ahmad, seketika anak yang bertubuh mungil itu teriak kesakitan.    Setelah diusut, saat bapaknya baru pulang kerja, ibunya laporan kalau si Ahmad berulah lagi di sekolah. Dia mengganggu dan mengambil uang temannya. Bapak yang masih cepek karena baru pulang kerja, mendengar aduan tersebut langsung menemui Ahmad, seraya memukul. Padahal maksud tujuan Guru menulis pelanggaran sebagaiamana tercantum agar ada komunikasi yang sama. Antara sekolah dengan orang tua, mengarahkan dan membimbing. Bukan sebaliknya malah menghajar dan menyakiti. Walau orang tua mengingatkan dengan cubitan, pukulan, dan diiringi dengan obrolan. Pasti anak itu mengatakan siap berubah, tapi ketika sudah sampai di sekolah hilang peringatan tersebut, dan kembali berulah. Ta...

Resahlah Jika Hati Jauh Dari-Nya.

  By. : Moh. Homaidi* Beberapa hari sebelum di keluarkan surat keputusan (SK) dari Yayasan, beberapa calon Guru yang sempat melamar, terus menghubungi aku, memastikan apakah dirinya di terima atau tidak. Mereka khawatir, takut tidak di terima, lalu mencari ke mana lagi? Salah satu peserta berucap di ujung pesan WhatsAp. Setelah SK keluar, mereka senang dan mengucapkan terimakasih. Tapi setelah itu hilang dari permukaan. Sudah menjadi kebiasaan Manusia jiwanya resah dan khawatir saat menghadapi masalah, apalagi ada sesuatu yang ia harapkan. Resah juga terjadi jika dirinya mendapat cibiran dan hinaan dari orang lain. Padahal terkadang mereka mencibir gara - gara iri atas prestasi yang di raihnya. Teruslah fokus menoreh prestasi, tebarkan kebaikan kepada khalayak. Karena kebaikan itu pada saatnya akan kita tuai. Imam Al-Ghazali Rahimahullahu, berkata : "Jangan resah andai ada yang membecimu, karena masih banyak yang mencintaimu di Dunia. Tetapi resah dan takutlah andai Allah membenci...

Menemukan Ketenangan

By. : Moh. Homaidi* Dengan dalih mendapatkan ketenangan, banyak orang yang mencari di mana dia berada. Ada yang mencari di pantai, dan ada pula yang mencari di pegunungan dengan mendaki. Tidak cukup di situ, ada yang pergi ke club-club malam. Tidak puas sampai membuat club motor atau mobil, melakukan konvoi dan healing.  Ada juga yang memburu like, dia berharap dengan banyak penggemar ketenangan akan datang. Setelah ada yang  menghujat bingung, sakit hati, hidup tidak tenang. Haters pun bermunculan. Pertanyaannya, apakah setelah melakukan rentetan itu, hati dan pikiran tenang?. Tentu tidak. Lalu bagaimana agar hati dan pikiran menjadi tenang?. Berkata al-Imam Syafi'i rahimahullahu ta'ala, من أحبَّ أن يُنوِّر الله قلبه، فعليه: بالخَلوة، وقِلَّة الأكل، وترك مُخالطة السُفهاء وبُغضِ أهلِ العلمِ الذين ليس معهم إنصافٌ ولا أدَب "Siapa saja yang ingin agar Allah ﷻ sinari hatinya, maka hendaknya; Pertama , menyendiri. Kedua , Sedikit makan. Ketiga , meninggalkan bergaul dengan oran...

Kesempatan Berkarya

By. : Moh. Homaidi* Tidak banyak orang yang mampu memanfa'atkan waktu sebaik-baiknya, terkhusus saat bertemu dengan komunitas yang baik dan bijak. Terkadang hilang seiring tidak memegang amanah yang sesuai. Spirit turun, dan melemah, kenangnya hanya mengeluh dan duka. Padahal jika orang tersebut termasuk golongan yang bijak, dia tetap semangat dalam berkarya, tidak harus menunggu tugas amanah. Maka ketika mendapat amanah berupa komunitas, atau organisasi, belajarlah banyak dari perkumpulan tersebut. Karena amanah itu bejangka, sesuai waktu yang di tetapkan. Luangkan untuk merenung, kira-kira pada kesempatan ini, apa yang harus aku pelajari dan kembangkan. Jangan kemudian diam, hanya ikut arus. Hal ini sesuai dengan nesehat Imam Hasan Al-Bashri yang berbunyi, “Anak Adam! Kalian bukanlah apa-apa kecuali hanyalah sebuah hitungan hari. Setiap kali hari itu lewat maka sebagian darimu pun pergi menghilang”.  Nasehat tersebut memberi pesan kepada kita, betapa berharganya waktu yang ada. H...

Stabilitas Estafet Kepemimpinan

  By. : Moh. Homaidi * Pada dasarnya tidak ada yang sanggup menerima amanah, apalagi sampai puncak. Karena dia tahu banyak yang akan menjadi tanggung jawab, dan harus dipertanggung jawabkan. Bukan sebaliknya, merebut kekuasaan untuk kepentingan diri dan golongannya, apalagi sampai meghalalkan berbagai cara, na'udzubillah . Terlebih jika ada kaitannya dengan ekonomi, seakan tanpa kekuasaan hidupnya akan hampa dan dijauhi orang banyak. Parahnya dia tidak peduli tanggung jawab yang sesungguhnya. Sampai mengahancurkan nama baik lawan politiknya, demi meninggikan elektabilatasnya. Hati-hati jika ada bakal calon yang punya gelagat demikian. Karena jelas akan merugikan dan menyangsarakan. Pilihlah bakal calon yang punya latar belakang baik, dan harum namanya. Dengan ciri mementingkan kepentingan umum daripada golongannya. Bahkan jika ada kesempatan mundur dia pilih mundur, dan memilih orang lain agar jadi pemimpin. Hal ini ditegaskan oleh Ustadz Suhadi, saat memberi sambutan penutupan pad...

Menjaga Keharmonisan Melalui Komunikasi

  By. : Moh. Homaidi* Begini ustadz saya adalah seorang perempuan yang sudah pernah menikah. Pernikahan saya sebelumnya baik-baik saja, tidak pernah terjadi kekerasan, suami sangat sayang kepada saya. Suami saya seorang tentara, demi karirnya  yang cukup mensilaukan, dia harus melengkapi persyaratan pasangannya. Perlu diketahui saya adalah istri sirrinya. Suami ingin mensahkan pernikahan yang baik ini. Akhirnya perlengkapan syarat pernikahan mulai di cari, termasuk data keluarga saya. Na'udzubillah, ternyata kakek saya termasuk garis merah atau Partai Komunis Indonesia (PKI), sehingga rencana pernikahan sah di batalkan. Suami sangat berat melepaskan saya, tapi khawatir karir suami terhambat. Akhirnya sesuatu yang tidak diinginkan pun terjadi, saya di telak suami, dan di kembalikan ke jawa, karena sebelumnya saya ikut suami bertugas ke luar jawa. Keluarga suami sangat berat melepaskan saya. Sampai keluarga suami ingin menjodohkan saya dengan orang lain, tapi saya belum siap dan...

Jiwa Militansi

  By. :  Moh. Homaidi* Mendengar kata militan, pikiran dan hati seakan menggemuruh. Tergambar jenggot panjang, jidat hitam, dan celana cingkrang, serta berkifikir kaku.  Kenapa gambaran negatif yang muncul di tengah Masyarakat? Karena sebagian orang menuduh golongan tersebut sulit bergaul, dan pilih-pilih teman. Padahal jenggot panjang, jidat hitam, dan celana cingkrang, bagian dari sunnah. Hanya saja terkadang ada oknum yang kurang bertanggung jawab, sehingga syari'ah menjadi kambing hitam. Salah satu contohnya, mudah mentandzir atau menyalahkan orang lain. Sehingga wajar terjadi saling tuduh antar orang atau golongan. Sehingga tersebar fitnah, terjadilah tidak suka antar satu dengan yang lain. Padahal Ustadz Abdurrahman, menyampaikan saat mengisi Silaturrahim Rayon (Silat) Tapalkuda pada Sabtu, (27/23), beliau menegaskan pentingnya seseorang mempunyai jiwa militan. Karena militan itu adalah, pertama , responsif. Cepat tanggap, segera bersikap, dan tidak menunda waktu. K...